Hipnoterapi Mengenal Diri Sendiri: Menemukan Pola Diri yang Selama Ini Tidak Disadari

Hipnoterapi Mengenal Diri Sendiri: Menemukan Pola Diri yang Selama Ini Tidak Disadari

Hipnoterapi Mengenal Diri Sendiri
Hipnoterapi Mengenal Diri Sendiri: Menemukan Pola Diri yang Selama Ini Tidak Disadari


💬KLINIK CARENZA JAKARTA

Ada kalanya seseorang merasa hidupnya baik-baik saja, tetapi tetap ada bagian dalam dirinya yang sulit dipahami. Ia mungkin sering merasa tidak percaya diri, terlalu takut mengecewakan orang lain, mudah merasa bersalah, sulit mengatakan “tidak”, atau terus mengulangi pola hubungan yang sebenarnya ingin ditinggalkan.

Dalam kondisi seperti itu, proses hipnoterapi mengenal diri sendiri dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan untuk membantu seseorang melihat lebih dalam bagaimana pikiran, emosi, pengalaman, dan kebiasaan saling berkaitan.

Hipnoterapi bukan cara untuk “membongkar semua rahasia pikiran” atau membuat seseorang kehilangan kendali. Dalam praktik yang bertanggung jawab, prosesnya dilakukan dengan persetujuan klien dan diarahkan sesuai kebutuhan yang dibicarakan dalam konsultasi.

Salah satu tema yang kadang muncul ketika seseorang berusaha memahami dirinya adalah inner child, yaitu istilah yang digunakan untuk menggambarkan bagian pengalaman emosional yang berkaitan dengan masa kanak-kanak. Namun, membahas inner child tidak berarti semua masalah orang dewasa pasti disebabkan oleh masa kecil.

Yang lebih penting adalah membantu seseorang memahami pola yang sedang terjadi sekarang: apa yang dirasakan, apa yang memicunya, bagaimana tubuh dan pikiran merespons, serta perubahan apa yang sebenarnya ingin dibangun.

Baca juga Hipnoterapi untuk Perubahan Kebiasaan

Apa Itu Hipnoterapi untuk Mengenal Diri Sendiri?

Secara sederhana, hipnoterapi adalah pendekatan yang memanfaatkan kondisi hipnosis atau relaksasi terarah dalam proses terapi. Tujuannya bukan sekadar membuat seseorang rileks, tetapi menggunakan kondisi tersebut sebagai bagian dari proses terapeutik sesuai kebutuhan klien.

Dalam konteks mengenal diri sendiri, fokusnya dapat diarahkan pada pemahaman terhadap pengalaman internal seseorang.

Misalnya:

  • Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan?
  • Mengapa situasi tertentu membuat saya bereaksi sangat kuat?
  • Mengapa saya terus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak saya inginkan?
  • Mengapa saya begitu takut ditolak?
  • Mengapa saya sulit mempercayai orang lain?
  • Mengapa saya selalu merasa harus menyenangkan semua orang?
  • Keyakinan apa tentang diri saya yang selama ini saya pegang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah ditemukan.

Seseorang bisa sangat pandai memahami orang lain, tetapi kesulitan memahami dirinya sendiri.

Ia mungkin mengetahui apa yang harus dilakukan secara logis, tetapi tetap kesulitan mengubah respons emosional tertentu.

Di sinilah proses mengenal diri menjadi lebih dari sekadar membaca buku pengembangan diri atau membuat daftar kelebihan dan kekurangan.

Mengenal diri bukan sekadar mengetahui kelebihan dan kekurangan

Mengenal diri sendiri berarti membangun pemahaman yang lebih jujur mengenai bagaimana diri kita bekerja.

Termasuk di dalamnya:

1. Mengenali emosi

Bukan hanya mengetahui apakah sedang “baik” atau “buruk”, tetapi mampu membedakan marah, takut, kecewa, malu, sedih, cemas, tertekan, atau merasa tidak dihargai.

2. Mengenali pemicu

Situasi tertentu mungkin menghasilkan respons emosional yang jauh lebih besar dibandingkan situasi lainnya.

3. Mengenali pola

Seseorang mungkin menyadari bahwa setiap kali mendapatkan kritik, ia langsung merasa dirinya tidak berharga.

4. Mengenali kebutuhan

Di balik kemarahan atau penolakan terkadang terdapat kebutuhan untuk merasa aman, dihargai, didengar, atau diterima.

5. Mengenali pilihan

Kesadaran diri juga berarti memahami bahwa seseorang dapat belajar memberikan respons yang berbeda terhadap situasi tertentu.

Jadi, tujuan mengenal diri bukan membuat seseorang terus-menerus menganalisis masa lalu.

Tujuannya adalah memperoleh pemahaman yang lebih baik agar kehidupan saat ini dapat dijalani dengan lebih sadar.

Mengapa Seseorang Bisa Sulit Mengenal Dirinya Sendiri?

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya, “Sebenarnya saya membutuhkan apa?”

Sejak kecil, seseorang dapat terbiasa menyesuaikan diri dengan keluarga, sekolah, lingkungan sosial, pekerjaan, maupun pasangan.

Penyesuaian tersebut pada dasarnya tidak selalu buruk. Manusia memang perlu belajar hidup bersama orang lain.

Namun, masalah dapat muncul ketika seseorang terlalu lama mengabaikan kebutuhan dan emosinya sendiri.

1. Terlalu lama mengikuti tuntutan orang lain

Contohnya adalah seseorang yang sejak kecil terbiasa mendengar bahwa ia harus selalu menjadi anak yang baik.

Ketika dewasa, pola tersebut dapat muncul dalam bentuk:

  • sulit menolak permintaan orang lain,
  • takut mengecewakan,
  • merasa bersalah ketika memilih diri sendiri,
  • selalu berusaha mendapatkan persetujuan,
  • atau merasa tidak nyaman ketika orang lain tidak menyukainya.

Orang tersebut mungkin terlihat sangat baik di mata orang lain.

Namun di dalam dirinya, ia bisa merasa lelah karena tidak tahu kapan harus berhenti.

2. Sulit mengenali emosi

Sebagian orang terbiasa menekan emosi daripada memahaminya.

Ketika sedih, ia mengatakan dirinya baik-baik saja.

Ketika marah, ia memilih diam.

Ketika kecewa, ia langsung menganggap dirinya terlalu sensitif.

Lama-kelamaan, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.

Padahal, emosi dapat menjadi informasi penting mengenai pengalaman seseorang.

Bukan berarti setiap emosi harus langsung diikuti.

Marah tidak selalu berarti harus meluapkan kemarahan.

Takut tidak selalu berarti harus menghindari situasi.

Sedih tidak berarti seseorang lemah.

Mengenali emosi justru memberi kesempatan untuk menentukan respons dengan lebih sadar.

3. Pola lama yang terus berulang

Salah satu alasan seseorang mulai mencari bantuan profesional adalah karena ia melihat pola yang berulang.

Misalnya:

“Saya selalu memilih pasangan dengan pola yang sama.”

atau:

“Setiap kali ada masalah, saya langsung berpikir saya pasti gagal.”

atau:

“Saya tahu saya harus mengatakan tidak, tetapi selalu merasa bersalah setelah melakukannya.”

Kesadaran seperti ini sebenarnya merupakan awal yang penting.

Sebab perubahan biasanya lebih sulit dilakukan ketika seseorang belum menyadari pola yang sedang terjadi.

4. Pengalaman masa lalu yang belum dipahami

Pengalaman masa lalu memang dapat menjadi salah satu bagian dari cerita hidup seseorang.

Namun penting untuk berhati-hati.

Tidak semua kesulitan orang dewasa harus dicari penyebabnya pada masa kanak-kanak.

Tidak semua kenangan buruk merupakan trauma.

Dan tidak semua masalah membutuhkan proses regresi atau penggalian memori.

Karena itu, eksplorasi pengalaman masa lalu sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan memiliki tujuan yang jelas.

Apa Hubungan Hipnoterapi dengan Inner Child?

Istilah inner child banyak digunakan dalam pembahasan mengenai perkembangan diri, hubungan, dan luka emosional.

Secara sederhana, inner child dapat dipahami sebagai cara untuk menggambarkan aspek pengalaman emosional seseorang yang berkaitan dengan masa kanak-kanak.

Misalnya, pengalaman ketika dahulu seseorang merasa:

  • tidak didengar,
  • ditolak,
  • dibandingkan,
  • terlalu dituntut,
  • takut dimarahi,
  • kurang mendapatkan rasa aman,
  • atau justru memperoleh pengalaman positif yang membentuk rasa percaya dirinya.

Konsep ini dapat menjadi alat refleksi yang membantu seseorang memahami bagaimana pengalaman sebelumnya mungkin berkaitan dengan cara ia merespons situasi sekarang.

Namun, inner child bukan diagnosis medis atau diagnosis gangguan mental.

Karena itu, istilah tersebut sebaiknya digunakan sebagai kerangka pemahaman dan refleksi, bukan sebagai label untuk menjelaskan semua masalah psikologis seseorang.

Mengapa pengalaman masa kecil sering dibicarakan?

Masa kanak-kanak merupakan bagian penting dalam perkembangan seseorang.

Cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan, memperoleh rasa aman, mendapatkan dukungan, menghadapi konflik, dan membangun hubungan dapat menjadi bagian dari pengalaman hidup yang dibawanya sampai dewasa.

Sebagai contoh, seseorang yang sering merasa harus sempurna mungkin kemudian menjadi sangat keras kepada dirinya sendiri.

Orang lain mungkin sangat takut melakukan kesalahan karena pengalaman sebelumnya membuat kesalahan terasa seperti sesuatu yang berbahaya.

Ada pula yang terbiasa menyembunyikan perasaan karena sejak kecil belajar bahwa menunjukkan emosi dianggap tidak baik.

Tetapi sekali lagi, hubungan tersebut tidak selalu sederhana.

Perilaku seseorang saat dewasa dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kepribadian, lingkungan, pengalaman hidup, hubungan sosial, kondisi saat ini, dan berbagai faktor lainnya.

Bagaimana Hipnoterapi Membantu Proses Mengenal Diri?

Hipnoterapi bukan proses di mana terapis menentukan “siapa diri Anda sebenarnya”.

Sebaliknya, proses terapi yang baik memberikan ruang agar klien dapat mengeksplorasi pengalaman dan pola dirinya dengan lebih terarah.

Secara umum, sesi dapat diawali dengan konsultasi dan pemetaan kebutuhan.

Pada tahap ini, klien dapat menjelaskan apa yang sedang dialami dan apa yang ingin diperbaiki.

Barulah pendekatan yang sesuai dapat dipertimbangkan.

Konsultasi dan pemetaan kebutuhan

Ini merupakan tahap penting yang sering justru dilewatkan dalam gambaran populer mengenai hipnoterapi.

Sebelum masuk ke teknik hipnosis, terapis perlu memahami konteks klien.

Misalnya:

  • masalah utama yang ingin dibicarakan,
  • sejak kapan masalah dirasakan,
  • situasi yang biasanya menjadi pemicu,
  • apa yang sudah pernah dilakukan,
  • harapan terhadap proses terapi,
  • serta kondisi lain yang relevan.

Dengan demikian, sesi tidak hanya berangkat dari asumsi bahwa “semua masalah berasal dari bawah sadar”.

Relaksasi

Pada bagian tertentu dari sesi, terapis dapat membimbing klien menuju kondisi yang lebih rileks dan fokus.

Kondisi hipnosis tidak sama dengan tidur biasa.

Klien juga tidak otomatis kehilangan kesadaran atau kendali.

Dalam pendekatan yang bertanggung jawab, proses dilakukan dengan persetujuan dan kerja sama klien.

Eksplorasi pengalaman dan pola

Setelah kondisi yang sesuai tercapai, proses dapat diarahkan untuk mengeksplorasi pengalaman, perasaan, keyakinan, atau pola tertentu yang relevan dengan tujuan terapi.

Tidak selalu berarti harus mencari satu kejadian masa lalu sebagai “akar semua masalah”.

Justru, proses yang baik perlu menghindari kesimpulan yang dipaksakan.

Yang dicari adalah pemahaman yang berguna bagi kebutuhan klien.

Reframing

Salah satu bagian penting dalam perubahan adalah melihat pengalaman dengan sudut pandang yang lebih adaptif.

Misalnya, seseorang mungkin memiliki keyakinan:

“Kalau saya gagal, berarti saya tidak berharga.”

Melalui proses refleksi dan terapi, keyakinan tersebut dapat dieksplorasi.

Tujuannya bukan mengganti pikiran negatif dengan kalimat positif secara paksa, melainkan membantu seseorang membangun pemahaman yang lebih realistis.

Gagal melakukan sesuatu tidak otomatis berarti seseorang tidak berharga.

Membentuk respons yang lebih adaptif

Mengenal diri tidak akan banyak membantu jika hanya berhenti pada pemahaman.

Bagian penting berikutnya adalah:

“Setelah saya memahami pola ini, apa yang ingin saya lakukan secara berbeda?”

Misalnya:

  • belajar menetapkan batas,
  • berkomunikasi lebih terbuka,
  • mengurangi self-criticism,
  • mengenali kebutuhan emosional,
  • membangun kebiasaan yang lebih sehat,
  • atau menghadapi situasi tertentu dengan respons yang lebih tenang.

Inilah alasan mengapa proses terapi sebaiknya tidak hanya berorientasi pada masa lalu.

Masa lalu dapat dipahami.

Namun perubahan tetap perlu dibawa ke kehidupan sekarang.

Contoh Pola Diri yang Bisa Dieksplorasi dalam Proses Hipnoterapi

Setiap orang datang dengan cerita yang berbeda. Karena itu, tidak tepat jika hipnoterapi mengenal diri sendiri dianggap memiliki satu pola sesi yang sama untuk semua orang.

Seseorang mungkin datang karena merasa tidak percaya diri. Orang lain mungkin merasa terlalu takut ditolak. Ada pula yang tidak memiliki keluhan yang terlihat jelas, tetapi merasa hidupnya seperti berjalan tanpa benar-benar memahami apa yang diinginkannya.

Dalam proses konsultasi, beberapa pola berikut dapat menjadi bahan eksplorasi.

1. Selalu merasa tidak cukup baik

Perasaan “saya belum cukup baik” dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Seseorang mungkin terus membandingkan dirinya dengan orang lain, sulit menikmati pencapaian, atau merasa bahwa apa pun yang dilakukan masih kurang.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola tersebut dapat terlihat seperti:

  • sulit menerima pujian,
  • selalu mencari kesalahan diri,
  • takut mencoba karena khawatir gagal,
  • terlalu lama memikirkan kesalahan kecil,
  • atau menetapkan standar yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri.

Yang perlu dipahami adalah bahwa rendahnya kepercayaan diri tidak selalu memiliki satu penyebab.

Pengalaman masa lalu mungkin menjadi salah satu faktor, tetapi kondisi lingkungan, hubungan sosial, tekanan pekerjaan, pengalaman kegagalan, dan cara seseorang menilai dirinya saat ini juga dapat berperan.

Karena itu, proses terapi sebaiknya melihat seseorang secara utuh.

2. Takut ditolak

Ketakutan terhadap penolakan dapat membuat seseorang terus menyesuaikan diri dengan orang lain.

Ia mungkin sulit mengungkapkan pendapat karena takut hubungan menjadi buruk.

Dalam hubungan pribadi, pola ini dapat membuat seseorang:

  • terlalu sering meminta kepastian,
  • sulit mengungkapkan kebutuhan,
  • menghindari konflik,
  • selalu berusaha menyenangkan pasangan,
  • atau merasa sangat terpukul ketika mendapat kritik.

Jika pola ini mengganggu kehidupan sehari-hari, mengenali pemicunya dapat menjadi langkah awal yang bermanfaat.

Pertanyaan yang dapat dieksplorasi misalnya:

“Apa yang sebenarnya saya takutkan ketika seseorang tidak menyukai saya?”

Pertanyaan tersebut dapat membuka ruang untuk memahami hubungan antara sebuah kejadian, pikiran, emosi, dan respons seseorang.

3. Sulit mengatakan “tidak”

Kemampuan mengatakan “tidak” bukan berarti seseorang egois.

Dalam banyak situasi, mengatakan tidak merupakan bagian dari kemampuan menetapkan batas yang sehat.

Namun bagi sebagian orang, menolak permintaan orang lain dapat menimbulkan rasa bersalah yang sangat kuat.

Akibatnya, mereka menerima terlalu banyak tanggung jawab meskipun sudah lelah.

Jika hal ini terus terjadi, seseorang dapat mulai merasa:

“Kenapa saya selalu mengutamakan orang lain?”

Proses mengenal diri dapat membantu seseorang melihat kebutuhan apa yang selama ini diabaikan dan mengapa menetapkan batas terasa begitu sulit.

4. Mudah merasa bersalah

Rasa bersalah memiliki fungsi tertentu. Perasaan tersebut dapat membantu seseorang menyadari ketika tindakannya mungkin berdampak buruk kepada orang lain.

Namun, rasa bersalah yang muncul hampir setiap kali seseorang memilih dirinya sendiri merupakan hal yang berbeda.

Contohnya:

  • merasa bersalah ketika beristirahat,
  • merasa bersalah ketika menolak,
  • merasa bersalah karena tidak bisa membantu semua orang,
  • atau merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain.

Dalam situasi seperti ini, penting untuk membedakan antara tanggung jawab yang memang dimiliki dan tanggung jawab yang sebenarnya bukan miliknya.

5. Terlalu keras terhadap diri sendiri

Ada orang yang dapat memaafkan kesalahan orang lain, tetapi sangat sulit memaafkan dirinya sendiri.

Ketika melakukan kesalahan, ia mungkin menggunakan kata-kata yang tidak akan pernah ia gunakan kepada orang lain.

Misalnya:

  • “Saya memang bodoh.”
  • “Saya selalu gagal.”
  • “Saya tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar.”

Pola self-talk seperti ini dapat menjadi bahan refleksi.

Tujuannya bukan membuat seseorang selalu berpikir positif, tetapi belajar menggunakan penilaian yang lebih seimbang terhadap dirinya.

6. Sulit mempercayai orang lain

Pengalaman hubungan sebelumnya dapat memengaruhi bagaimana seseorang melihat hubungan berikutnya.

Seseorang yang pernah merasa dikhianati mungkin menjadi lebih waspada.

Kewaspadaan tersebut dapat dipahami.

Namun jika akhirnya membuat seseorang tidak mampu membangun hubungan apa pun, pola tersebut layak diperhatikan.

Dalam proses konsultasi, pertanyaan yang lebih bermanfaat bukan sekadar:

“Siapa yang salah?”

melainkan:

“Bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi cara saya melihat hubungan saat ini?”


Apakah Hipnoterapi Bisa Membantu Mengatasi Inner Child?

Jawaban yang lebih tepat adalah: hipnoterapi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk mengeksplorasi pengalaman dan respons emosional yang berkaitan dengan masa lalu, tetapi hasilnya tidak dapat dijamin sama pada setiap orang.

Istilah “mengatasi inner child” sendiri perlu dipahami secara hati-hati.

Inner child bukan sesuatu yang secara medis harus “dihilangkan”.

Lebih tepat jika pembahasannya diarahkan pada:

  • memahami pengalaman emosional,
  • mengenali kebutuhan yang belum tersadari,
  • memahami pola respons,
  • mengembangkan penerimaan diri,
  • dan membangun cara menghadapi situasi sekarang yang lebih adaptif.
Contoh sederhana

Bayangkan seseorang yang sejak kecil sering merasa harus sempurna agar mendapatkan penghargaan.

Saat dewasa, ia mungkin menjadi orang yang sangat berprestasi.

Dari luar, kehidupannya terlihat baik.

Tetapi ketika melakukan kesalahan kecil, muncul kecemasan dan pikiran:

“Kalau saya tidak sempurna, berarti saya gagal.”

Dalam konteks seperti ini, pembahasan inner child dapat membantu seseorang melihat hubungan antara pengalaman emosional sebelumnya dan pola penilaian terhadap diri saat ini.

Namun proses tersebut tidak harus selalu menghasilkan sebuah “kenangan tersembunyi”.

Justru, terapis perlu berhati-hati agar tidak menanamkan atau mengarahkan klien untuk mempercayai suatu peristiwa yang belum tentu benar-benar terjadi.

Tidak semua masalah harus dikaitkan dengan inner child

Ini merupakan hal penting yang sering hilang dalam konten internet.

Ketika seseorang mengalami kecemasan, sulit percaya diri, konflik hubungan, atau kebiasaan tertentu, penyebabnya tidak otomatis berasal dari masa kanak-kanak.

Kehidupan seseorang jauh lebih kompleks.

Faktor masa kini juga perlu diperhatikan, seperti:

  • tekanan pekerjaan,
  • kondisi keluarga,
  • hubungan sosial,
  • perubahan kehidupan,
  • pola tidur,
  • stres,
  • lingkungan,
  • dan berbagai faktor psikologis maupun sosial lainnya.

Karena itu, pendekatan yang baik seharusnya tidak memaksakan satu teori kepada semua klien.

Siapa yang Dapat Mempertimbangkan Hipnoterapi untuk Mengenal Diri?

Hipnoterapi untuk mengenal diri dapat dipertimbangkan oleh orang yang ingin memahami pola pikiran, emosi, kebiasaan, atau respons tertentu yang dirasakan menghambat kehidupannya.

Contohnya adalah orang yang:

  • ingin memahami pola dirinya dengan lebih baik,
  • ingin mengembangkan kesadaran diri,
  • sering mengalami respons emosional tertentu,
  • ingin memahami kebiasaan yang sulit diubah,
  • ingin membangun pola kebiasaan yang lebih positif,
  • ingin mengeksplorasi hubungan antara pengalaman dan respons saat ini,
  • atau sedang mencari pendekatan pendamping dalam proses pengembangan diri.

Namun, memiliki rasa ingin mengenal diri bukan berarti seseorang wajib menjalani hipnoterapi.

Self-reflection, journaling, membaca buku, berdiskusi dengan orang yang dipercaya, konseling, psikoterapi, maupun pendekatan lain juga dapat menjadi bagian dari proses memahami diri.

Yang terpenting adalah memilih pendekatan berdasarkan kebutuhan.

Baca juga Layanan Hipnoterapi Dewasa

Kapan Sebaiknya Tidak Berhenti pada Hipnoterapi Saja?

Ada situasi ketika seseorang membutuhkan evaluasi atau penanganan dari tenaga kesehatan mental atau medis yang sesuai.

Jika seseorang mengalami kondisi yang berat, menetap, atau mengganggu fungsi sehari-hari secara signifikan, jangan menjadikan konten internet atau hipnoterapi sebagai pengganti diagnosis dan penanganan profesional yang diperlukan.

Terutama jika terdapat:

  • pikiran untuk menyakiti diri sendiri,
  • keinginan bunuh diri,
  • kehilangan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari,
  • gejala psikologis berat,
  • perubahan perilaku yang sangat drastis,
  • atau keadaan darurat medis.

Dalam kondisi darurat, prioritasnya adalah mendapatkan bantuan medis atau layanan kegawatdaruratan yang sesuai.

Hipnoterapi juga tidak seharusnya diposisikan sebagai pengganti terapi medis ketika kondisi seseorang memang membutuhkan penanganan medis.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Menjalani Sesi Hipnoterapi?

Tidak diperlukan persiapan yang rumit.

Hal yang jauh lebih penting adalah memiliki tujuan konsultasi yang cukup jelas.

Anda tidak harus mengetahui “akar masalah” sebelum datang.

Justru, proses konsultasi dapat membantu merumuskan apa yang sebenarnya ingin dibahas.

Beberapa hal yang dapat dipersiapkan

1. Tentukan hal yang ingin dibicarakan

Misalnya:

“Saya ingin memahami mengapa saya selalu takut ditolak.”

atau:

“Saya ingin mengubah kebiasaan yang terus saya lakukan meskipun sebenarnya tidak saya inginkan.”

Tidak perlu menggunakan istilah psikologi.

Ceritakan dengan bahasa Anda sendiri.

2. Catat situasi yang sering menjadi pemicu

Perhatikan kapan masalah biasanya muncul.

Misalnya:

  • ketika mendapatkan kritik,
  • ketika berada dalam hubungan,
  • saat bekerja,
  • ketika berbicara di depan orang,
  • atau ketika menghadapi perubahan.

Catatan sederhana dapat membantu proses konsultasi.

3. Jangan merasa harus menceritakan semuanya

Konsultasi bukan ujian.

Anda tidak harus membuka seluruh kehidupan pribadi dalam satu sesi.

Informasi dapat dibagikan sesuai kebutuhan dan kesiapan.

4. Hindari datang dengan ekspektasi “saya harus menemukan trauma”

Tujuan terapi bukan mencari trauma sebanyak mungkin.

Yang lebih penting adalah memahami masalah yang memang relevan dengan kehidupan Anda sekarang.

5. Sampaikan kondisi dan kebutuhan secara jujur

Jika ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman, komunikasikan kepada terapis.

Hubungan terapeutik yang sehat membutuhkan komunikasi dua arah.


Bagaimana Gambaran Proses Hipnoterapi di Carenza Care?

Setiap sesi dapat berbeda karena kebutuhan setiap klien tidak sama.

Namun secara umum, proses dapat dipahami melalui beberapa tahapan.

1. Konsultasi awal

Pembahasan dimulai dari masalah atau tujuan yang ingin dicapai.

Pada tahap ini, klien dapat menjelaskan apa yang dirasakan dan apa yang membuatnya mencari bantuan.

2. Identifikasi pola

Terapis bersama klien dapat melihat pola yang muncul.

Misalnya:

Situasi → pikiran → emosi → respons → akibat.

Pemetaan sederhana ini membantu masalah yang awalnya terasa “campur aduk” menjadi lebih mudah dipahami.

3. Menentukan arah intervensi

Setelah kebutuhan lebih jelas, pendekatan sesi dapat disesuaikan.

Tidak semua orang membutuhkan eksplorasi pengalaman masa lalu.

Pada beberapa orang, fokusnya mungkin lebih relevan pada kebiasaan, respons emosional, atau tujuan perubahan saat ini.

4. Proses hipnosis atau relaksasi terarah

Jika sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klien, proses dapat dilanjutkan dengan teknik hipnosis atau relaksasi terarah.

Klien tetap terlibat dalam proses.

Hipnosis bukan berarti seseorang menjadi seperti robot yang kehilangan kehendak.

5. Penguatan pola yang lebih adaptif

Bagian ini dapat diarahkan pada tujuan perubahan yang telah disepakati.

Misalnya membangun cara merespons situasi dengan lebih tenang, memperkuat keyakinan yang lebih realistis, atau mendukung kebiasaan yang ingin dibentuk.

6. Evaluasi

Setelah sesi, penting untuk melihat kembali pengalaman klien dan perubahan apa yang dirasakan.

Proses perubahan tidak selalu terjadi hanya karena satu sesi.

Pada sebagian orang, dibutuhkan proses lanjutan sesuai kebutuhan.

Lihat juga Layanan kami di Hipnoterapis carenza care

Apakah Hipnoterapi Aman?

Keamanan merupakan salah satu pertanyaan yang wajar sebelum seseorang memutuskan menjalani hipnoterapi.

Secara umum, pengalaman hipnosis tidak sama dengan kehilangan kesadaran atau kehilangan kendali sepenuhnya.

Dalam praktik yang bertanggung jawab, klien perlu mengetahui apa yang akan dilakukan, memberikan persetujuan, dan memiliki ruang untuk menyampaikan ketidaknyamanan.

Namun, keamanan tidak hanya ditentukan oleh teknik hipnosis.

Kualitas layanan, kompetensi praktisi, proses asesmen, batasan layanan, komunikasi, dan kesesuaian pendekatan dengan kebutuhan klien juga penting.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apakah hipnoterapi aman?”

Tanyakan juga:

  • Siapa yang melakukan?
  • Bagaimana proses konsultasinya?
  • Apakah kebutuhan klien dinilai terlebih dahulu?
  • Apakah praktisi menjelaskan proses dengan jelas?
  • Apakah klien dapat menghentikan proses jika merasa tidak nyaman?
  • Apakah ada batasan mengenai masalah yang dapat ditangani?
  • Apakah klien diarahkan mencari bantuan lain jika membutuhkan layanan yang berbeda?

Pertanyaan tersebut jauh lebih membantu dalam menilai kualitas suatu layanan.

Hipnoterapi, Self-Reflection, dan Konseling: Apa Bedanya?

Ketiganya dapat sama-sama membantu seseorang memahami dirinya, tetapi bukan berarti merupakan hal yang identik.

Pendekatan Fokus Umum Bentuk Proses
Self-reflection Memahami pikiran, perasaan, dan pengalaman diri Dilakukan secara mandiri
Journaling Menuangkan dan mengamati pikiran serta emosi Menulis secara terstruktur atau bebas
Konseling Membahas masalah dan kebutuhan psikologis tertentu Percakapan terarah dengan profesional
Hipnoterapi Menggunakan hipnosis sebagai bagian dari proses terapeutik Melibatkan relaksasi/fokus dan intervensi sesuai kebutuhan
Psikoterapi Penanganan masalah psikologis melalui metode psikoterapeutik Proses profesional yang terstruktur

Tidak ada satu pendekatan yang otomatis paling baik untuk semua orang.

Pilihan sebaiknya disesuaikan dengan masalah, tujuan, kondisi, dan kebutuhan individu.

Apa yang Tidak Bisa Dijanjikan dari Hipnoterapi?

Bagian ini penting karena calon klien sering menemukan berbagai klaim yang sangat besar di internet.

Hipnoterapi yang bertanggung jawab seharusnya tidak menjanjikan bahwa:

  • satu sesi pasti menyelesaikan semua masalah,
  • semua trauma pasti hilang,
  • semua orang pasti berhasil,
  • seseorang pasti mengingat kembali semua pengalaman masa lalu,
  • hipnoterapi dapat menyelesaikan seluruh gangguan psikologis,
  • atau hasil tertentu pasti terjadi pada setiap klien.

Manusia bukan mesin.

Respons terhadap terapi dipengaruhi oleh banyak hal.

Tujuan terapi yang realistis justru dapat membantu seseorang membuat keputusan dengan lebih baik.

Mengenal Diri Tidak Berarti Menyalahkan Masa Lalu

Salah satu jebakan dalam proses self-healing adalah terlalu fokus mencari siapa yang harus disalahkan.

Ketika seseorang mulai memahami bahwa pengalaman masa lalu mungkin memengaruhi dirinya, muncul kemungkinan untuk melihat hidup dengan perspektif baru.

Tetapi memahami bukan berarti menyalahkan.

Masa lalu tidak dapat diubah.

Yang dapat dipelajari adalah bagaimana pengalaman tersebut membentuk cara seseorang melihat dirinya sekarang.

Misalnya:

“Dulu saya belajar bahwa melakukan kesalahan itu berbahaya.”

Kemudian perlahan berubah menjadi:

“Sekarang saya dapat belajar bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.”

Perubahan seperti ini tidak harus terjadi secara instan.

Dan tidak perlu dipaksakan.

Mengenal Diri Juga Berarti Mengenali Kekuatan

Pembahasan mengenai inner child dan luka emosional sering membuat proses self-healing terdengar seolah-olah hanya berisi masalah.

Padahal mengenal diri juga berarti mengetahui kekuatan yang sudah dimiliki.

Contohnya:

  • kemampuan bertahan dalam situasi sulit,
  • kepedulian kepada orang lain,
  • kemampuan belajar,
  • keberanian meminta bantuan,
  • kemampuan beradaptasi,
  • pengalaman menghadapi kegagalan,
  • atau kemampuan untuk memulai kembali.

Ini penting.

Seseorang tidak hanya terdiri dari luka.

Ia juga memiliki pengalaman, nilai, kemampuan, hubungan, dan sumber daya internal yang dapat menjadi bagian dari proses perubahan.

Cara Memilih Layanan Hipnoterapi yang Bertanggung Jawab

Sebelum memilih tempat hipnoterapi, jangan hanya membandingkan harga.

Pertimbangkan beberapa hal berikut.

Checklist sebelum konsultasi

☐ Identitas praktisi jelas

☐ Informasi layanan mudah ditemukan

☐ Proses konsultasi dijelaskan

☐ Tidak memberikan janji kesembuhan mutlak

☐ Tidak menggunakan ketakutan untuk memaksa calon klien

☐ Menjelaskan batasan layanan

☐ Menghargai privasi klien

☐ Bersedia menjawab pertanyaan calon klien

☐ Tidak memaksakan pengalaman atau keyakinan tertentu

☐ Bersedia menyarankan bantuan profesional lain bila diperlukan

Hati-hati terhadap klaim seperti:
  • “Pasti sembuh hanya dalam satu kali sesi.”
  • “Semua masalah Anda berasal dari trauma masa kecil.”
  • “Kami dapat menghapus semua trauma.”
  • “Dengan hipnosis, Anda pasti mengingat semua kejadian masa lalu.”

Klaim absolut seperti itu sebaiknya menjadi alasan untuk lebih berhati-hati.

Layanan kesehatan dan kesehatan mental membutuhkan komunikasi yang bertanggung jawab.

Mengapa Konsultasi Awal Penting?

Banyak orang berpikir bahwa konsultasi hanya diperlukan untuk menentukan jadwal.

Padahal konsultasi memiliki fungsi yang lebih penting.

Konsultasi memberikan kesempatan bagi calon klien untuk menjelaskan:

Apa yang sedang terjadi?

Apa yang ingin berubah?

Seberapa besar masalah tersebut memengaruhi kehidupan?

Pendekatan seperti apa yang mungkin sesuai?

Dari sisi klien, konsultasi juga merupakan kesempatan untuk menilai apakah ia merasa nyaman dengan praktisi.

Hubungan yang baik antara klien dan praktisi dapat menjadi bagian penting dari pengalaman terapi.

Self-Reflection yang Bisa Dilakukan Sebelum Konsultasi

Jika Anda sedang mencoba mengenal diri sendiri, tidak perlu menunggu sampai menjalani terapi.

Anda dapat memulai dengan beberapa pertanyaan sederhana.

Pertanyaan 1

Situasi apa yang paling sering membuat saya bereaksi secara emosional?

Pertanyaan 2

Apa yang biasanya saya pikirkan ketika situasi tersebut terjadi?

Pertanyaan 3

Apa yang sebenarnya saya takutkan?

Pertanyaan 4

Apa kebutuhan saya dalam situasi tersebut?

Pertanyaan 5

Apakah respons saya membantu menyelesaikan masalah atau justru membuatnya semakin sulit?

Pertanyaan 6

Apakah pola ini pernah muncul sebelumnya?

Pertanyaan 7

Jika orang yang saya sayangi mengalami hal yang sama, apa yang akan saya katakan kepadanya?

Pertanyaan terakhir sering kali menarik.

Sebab banyak orang memberikan nasihat yang penuh kasih kepada orang lain, tetapi sangat keras kepada dirinya sendiri.

Perubahan Tidak Selalu Terlihat Dramatis

Proses mengenal diri tidak selalu menghasilkan perubahan besar dalam waktu singkat.

Kadang perubahan justru terlihat sederhana.

Misalnya:

Dulu langsung marah → sekarang mampu berhenti sejenak.

Dulu selalu mengatakan “iya” → sekarang berani mempertimbangkan kebutuhan sendiri.

Dulu menganggap kesalahan sebagai kegagalan total → sekarang mampu melihatnya sebagai bagian dari proses belajar.

Dulu tidak memahami alasan merasa tertekan → sekarang mulai mengenali pemicunya.

Perubahan kecil seperti ini tetap memiliki arti.

Sebab kesadaran diri bukan tentang menjadi manusia yang sempurna.

Kesadaran diri adalah kemampuan untuk semakin memahami apa yang terjadi dalam diri dan memilih respons dengan lebih sadar.

Apa yang Perlu Diingat Sebelum Memulai Proses?

Jika Anda sedang mempertimbangkan hipnoterapi untuk mengenal diri sendiri, beberapa prinsip berikut dapat menjadi pegangan:

  1. Tidak semua masalah berasal dari masa kecil.
  2. Inner child bukan diagnosis medis.
  3. Tidak semua orang membutuhkan eksplorasi masa lalu.
  4. Hipnoterapi bukan pengganti semua bentuk layanan kesehatan mental.
  5. Hasil terapi dapat berbeda pada setiap orang.
  6. Tujuan terapi sebaiknya realistis dan spesifik.
  7. Konsultasi awal penting sebelum menentukan pendekatan.
  8. Klien berhak memahami proses yang akan dijalani.
  9. Perubahan membutuhkan keterlibatan aktif, bukan hanya satu sesi.
  10. Meminta bantuan bukan berarti seseorang lemah.

Pada akhirnya, mengenal diri sendiri bukan perjalanan untuk menemukan “siapa yang salah”.

Ini adalah proses untuk memahami diri dengan lebih jujur.

Dan dari pemahaman tersebut, seseorang dapat mulai menentukan apa yang ingin dipertahankan, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana ia ingin menjalani kehidupannya ke depan.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Hipnoterapi Mengenal Diri Sendiri

  • 1. Apa itu hipnoterapi untuk mengenal diri sendiri?
  • Hipnoterapi untuk mengenal diri sendiri adalah penggunaan hipnosis sebagai bagian dari proses terapeutik untuk membantu seseorang mengeksplorasi pikiran, emosi, pola perilaku, pengalaman, dan tujuan perubahan yang relevan dengan kehidupannya.

  • 2. Apakah hipnoterapi bisa membantu saya lebih memahami diri sendiri?
  • Hipnoterapi dapat menjadi salah satu pendekatan yang membantu proses refleksi dan eksplorasi diri. Namun, manfaat dan hasilnya dapat berbeda pada setiap orang. Proses sebaiknya dimulai dengan konsultasi untuk mengetahui kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai.

  • 3. Apakah hipnoterapi sama dengan tidur?
  • Tidak. Kondisi hipnosis bukan sekadar tidur. Seseorang umumnya tetap dapat mendengar, memahami, dan berkomunikasi selama proses. Hipnosis juga tidak berarti seseorang otomatis kehilangan kendali terhadap dirinya.

  • 4. Apakah hipnoterapi bisa mengatasi inner child?
  • Hipnoterapi dapat digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman emosional dan pola yang berkaitan dengan masa lalu, termasuk tema yang sering disebut sebagai inner child. Namun, inner child bukan diagnosis medis dan tidak semua masalah perlu dikaitkan dengan pengalaman masa kanak-kanak.

  • 5. Apakah saya harus mengingat kejadian masa kecil saat menjalani hipnoterapi?
  • Tidak. Proses hipnoterapi tidak harus bertujuan membuat seseorang mengingat semua pengalaman masa lalu. Fokus terapi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi.

  • 6. Apakah semua masalah orang dewasa berasal dari inner child?
  • Tidak. Kondisi seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pengalaman masa kecil mungkin menjadi salah satu bagian dari cerita, tetapi faktor kehidupan saat ini, lingkungan, hubungan, kebiasaan, dan berbagai aspek lainnya juga dapat berpengaruh.

  • 7. Apakah hipnoterapi bisa membuat seseorang kehilangan kendali?
  • Hipnosis tidak berarti seseorang kehilangan kendali sepenuhnya atau berubah menjadi seperti robot. Dalam proses yang dilakukan secara bertanggung jawab, klien mengetahui dan menyetujui proses yang dijalani.

  • 8. Berapa kali sesi hipnoterapi diperlukan untuk mengenal diri?
  • Tidak ada jumlah sesi yang berlaku sama untuk semua orang. Kebutuhan tergantung pada tujuan, masalah yang dibahas, respons terhadap proses, dan evaluasi selama perjalanan terapi.

  • 9. Apakah hipnoterapi hanya untuk orang yang memiliki trauma?
  • Tidak. Hipnoterapi dapat dibicarakan untuk berbagai kebutuhan yang sesuai dengan kompetensi dan ruang lingkup layanan, termasuk eksplorasi diri, perubahan kebiasaan, pengelolaan respons tertentu, maupun tujuan pengembangan diri. Namun, masalah kesehatan mental tertentu mungkin membutuhkan pendekatan profesional lain atau penanganan multidisipliner.

  • 10. Apakah hipnoterapi dapat menggantikan psikolog atau psikiater?
  • Tidak selalu. Hipnoterapi bukan pengganti otomatis psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan lainnya. Jika seseorang mengalami masalah psikologis atau medis yang membutuhkan evaluasi dan penanganan khusus, rujukan kepada profesional yang sesuai tetap penting.

  • 11. Apakah saya boleh berhenti saat sedang menjalani hipnoterapi?
  • Klien sebaiknya dapat menyampaikan ketidaknyamanan atau keinginan untuk menghentikan proses. Sebelum menjalani sesi, calon klien juga dapat menanyakan bagaimana prosedur persetujuan dan penghentian sesi dilakukan.

  • 12. Apakah hipnoterapi dapat mengubah kepribadian seseorang?
  • Hipnoterapi sebaiknya tidak dipahami sebagai cara untuk mengganti kepribadian seseorang. Fokusnya lebih tepat diarahkan pada tujuan terapeutik tertentu, seperti memahami pola, mengelola respons, atau mendukung perubahan kebiasaan sesuai kebutuhan.

  • 13. Apakah saya harus menceritakan seluruh masa lalu kepada terapis?
  • Tidak harus. Informasi yang dibahas dapat disesuaikan dengan tujuan konsultasi dan kesiapan klien. Anda dapat menyampaikan hal yang relevan dengan masalah yang ingin dibicarakan.

  • 14. Apa yang sebaiknya saya tanyakan sebelum memilih layanan hipnoterapi?
  • Anda dapat menanyakan siapa praktisinya, bagaimana proses konsultasi dilakukan, pendekatan yang digunakan, batasan layanan, bagaimana privasi dijaga, serta kapan klien akan disarankan mencari bantuan profesional lain.

  • 15. Apakah Carenza Care menerima konsultasi mengenai proses mengenal diri sendiri?
  • Carenza Care dapat menjadi salah satu tempat untuk mendiskusikan kebutuhan Anda terlebih dahulu. Konsultasi dapat digunakan untuk menjelaskan masalah atau tujuan yang sedang dihadapi sehingga kebutuhan Anda dapat dipahami sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Mengenal Diri Sendiri Adalah Proses, Bukan Perlombaan

Ada anggapan bahwa self-healing berarti seseorang harus menemukan semua luka dalam dirinya, memahami semua kejadian masa lalu, kemudian menjadi pribadi yang sepenuhnya bebas dari masalah.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Manusia akan terus mengalami perubahan.

Kita dapat berada dalam kondisi baik hari ini dan menghadapi tantangan berbeda beberapa tahun kemudian.

Karena itu, mengenal diri lebih tepat dipandang sebagai sebuah proses berkelanjutan.

Hari ini kita mungkin baru menyadari bahwa kita terlalu keras kepada diri sendiri.

Besok mungkin kita mulai belajar menetapkan batas.

Beberapa waktu kemudian, kita mungkin menyadari bahwa hubungan tertentu ternyata memengaruhi kondisi emosional kita.

Semua kesadaran tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan memahami diri.

Yang penting bukan menjadi manusia tanpa masalah.

Yang penting adalah memiliki kemampuan untuk memahami diri, mengenali kebutuhan, menyadari pola, dan mengambil keputusan dengan lebih sadar.

Kapan Saatnya Mempertimbangkan Konsultasi?

Tidak ada satu tanda yang berlaku untuk semua orang.

Namun konsultasi dapat dipertimbangkan ketika Anda merasa ada pola tertentu yang berulang dan sulit dipahami atau diubah sendiri.

Misalnya:

  • Anda mengetahui apa yang ingin dilakukan tetapi selalu kembali pada pola lama.
  • Anda sulit memahami mengapa situasi tertentu memicu emosi yang kuat.
  • Anda sering merasa tidak cukup baik.
  • Anda sulit menetapkan batas dengan orang lain.
  • Anda terlalu keras terhadap diri sendiri.
  • Anda ingin memahami hubungan antara pengalaman masa lalu dan respons saat ini.
  • Anda ingin memiliki ruang yang lebih terarah untuk melakukan refleksi.
  • Anda ingin mendiskusikan perubahan kebiasaan atau respons tertentu.

Anda tidak harus menunggu sampai masalah menjadi sangat berat untuk mulai mencari pemahaman.

Namun, mencari bantuan juga tidak berarti setiap masalah harus ditangani dengan hipnoterapi.

Konsultasi awal justru dapat menjadi kesempatan untuk mengetahui apakah pendekatan tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kesimpulan

Hipnoterapi mengenal diri sendiri dapat dipahami sebagai salah satu pendekatan yang membantu seseorang mengeksplorasi pikiran, emosi, pengalaman, kebiasaan, dan pola respons yang berkaitan dengan tujuan perubahan.

Proses mengenal diri tidak harus selalu berarti menggali masa lalu.

Yang lebih penting adalah memahami apa yang terjadi dalam diri saat ini.

Mengapa saya bereaksi seperti ini?

Apa yang sebenarnya saya rasakan?

Apa yang saya butuhkan?

Pola apa yang terus berulang?

Dan respons seperti apa yang ingin saya bangun ke depannya?

Dalam pembahasan mengenai hipnoterapi mengatasi inner child, penting untuk tetap menggunakan perspektif yang realistis. Inner child bukan diagnosis medis dan tidak semua masalah orang dewasa berasal dari masa kanak-kanak.

Pengalaman masa lalu dapat menjadi salah satu bagian yang dieksplorasi apabila memang relevan, tetapi kehidupan seseorang perlu dipahami secara menyeluruh.

Hipnoterapi juga bukan solusi yang otomatis cocok untuk setiap orang atau setiap kondisi. Jika seseorang mengalami masalah psikologis atau medis yang membutuhkan evaluasi dan penanganan khusus, bantuan dari profesional yang sesuai tetap diperlukan.

Pada akhirnya, mengenal diri sendiri bukan tentang menemukan seseorang yang harus disalahkan.

Ini tentang memahami diri dengan lebih jujur sehingga kita dapat membuat pilihan yang lebih sadar dalam menjalani kehidupan.

Lihat juga Testimoni Kami

🌿 Ingin Lebih Memahami Diri Sendiri?

Kadang kita sudah mencoba memahami diri sendiri melalui membaca, berpikir, atau berbicara dengan orang terdekat, tetapi tetap merasa ada pola tertentu yang sulit dijelaskan.

Jika Anda ingin membicarakan hal tersebut dengan lebih terarah, Anda dapat memulai dari konsultasi bersama Carenza Care.

Tidak perlu langsung mengetahui “apa akar masalahnya”.

Ceritakan saja apa yang sedang Anda alami, pola yang ingin Anda pahami, atau perubahan yang ingin Anda lakukan.

Dari konsultasi tersebut, kebutuhan Anda dapat dibicarakan terlebih dahulu sehingga langkah berikutnya dapat dipertimbangkan dengan lebih tepat.

Konsultasi Sekarang

📱 WhatsApp Konsultasi
+62 813-3068-4363

Anda dapat menghubungi Carenza Care untuk menanyakan informasi layanan, proses konsultasi, maupun ketersediaan jadwal.

🕘 Jam Operasional
Selasa – Minggu
08.00 – 17.00 WIB
Senin: Tutup

Klinik Carenza Care Jakarta

📍 Lihat Lokasi Klinik Carenza Jakarta di Google Maps

Klinik Carenza Care Surabaya

📍 Lihat Lokasi Klinik Carenza Surabaya di Google Maps

💬 Tidak yakin harus mulai dari mana? Tidak apa-apa.
Anda dapat memulai dengan menceritakan apa yang sedang Anda rasakan atau pola apa yang ingin Anda pahami. Konsultasi awal dapat membantu menentukan apakah layanan yang tersedia sesuai dengan kebutuhan Anda.

🌱 Mengenal diri bukan tentang menjadi sempurna. Mengenal diri adalah tentang memahami diri dengan lebih baik, sedikit demi sedikit.

Share the Post:

Related Posts